RSPON - Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta (RSPON Mahar Mardjono Jakarta)  menggelar Program Peningkatan Kapasitas Diagnosis Post-Stroke Cognitive Impairment (PSCI) di Medan, Sumatera Utara. Program ini merupakan kelanjutan dari kesuksesan pelatihan serupa yang telah diselenggarakan di Makassar dan Surabaya pada April 2026.
Lebih dari 40 residen neurologi mengikuti pelatihan yang diadakan di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara ini dengan antusias yang dilaksanakan pada 23 Mei 2026. Program yang didanai Lundbeck Foundation melalui Neurotorium ini bertujuan meningkatkan kompetensi tenaga medis dalam mendeteksi dan menangani gangguan kognitif pada pasien pasca stroke.
Program ini digagas oleh Prof. Dr. dr. Syahrul, Sp.S(K), Direktur SDM, Penelitian, dan Pendidikan RSPON, bersama dr. Galih Ricci Muchamad, MSc, sebagai research fellow Clinical Research Unit (CRU) RSPON. Keduanya menyoroti urgensi peningkatan kapasitas diagnosis PSCI di Indonesia mengingat diagnosis kondisi ini masih sering terlewatkan dalam praktik klinis.
Keterbatasan kompetensi dalam skrining kognitif, minimnya fasilitas memory clinic, serta modalitas diagnostik lainnya menjadi faktor utama rendahnya deteksi PSCI. Kondisi ini memprihatinkan mengingat prevalensi PSCI diperkirakan akan meningkat hingga 27,6% dari seluruh pasien stroke pada tahun 2030.
PSCI merujuk pada kondisi gangguan fungsi kognitif yang terjadi setelah serangan stroke, mencakup spektrum luas mulai dari penurunan kognitif ringan hingga demensia berat yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kegiatan dibuka oleh Wakil Dekan III Fakultas Kedokteran USU, Prof. Dr. dr. Dina Keumala Sari, M.Gizi, Sp.GK, Subsp.PK. RSPON menghadirkan narasumber berpengalaman tingkat nasional dan internasional untuk memberikan perspektif komprehensif tentang PSCI.
Dr. Deidre Anne De Silva, Vice President World Stroke Organization, berbagi wawasan global tentang penanganan gangguan kognitif pasca stroke. Sementara itu, Dr. dr. Silvia F. Lumempouw, Sp.N(K), Dokter Neurologi Konsultan Neurobehavior, membahas aspek klinis diagnosis dan manajemen PSCI. Prof. Syahrul turut menyampaikan materi dalam program ini.
Program yang dimoderatori Dr. dr. Fasihah Irfani, M.Ked (Neu), Sp.S(K) ini menyajikan kurikulum komprehensif meliputi epidemiologi stroke dan gejala pasca stroke, PSCI dan konsekuensi klinisnya, instrumen skrining kognitif, serta alur pelayanan rujukan PSCI di Indonesia.
Selain materi utama, peserta juga mendapat wawasan tentang penelitian genomik di Indonesia yang dipaparkan Dr. dr. Anwar Santoso, Sp.JP(K). Pembahasan ini memberikan dimensi tambahan tentang perkembangan riset medis di tanah air.
Prof. Syahrul mengakhiri sesi dengan mengajak Fakultas Kedokteran USU berkolaborasi dalam bidang penelitian dan pendidikan sebagai bagian dari upaya memperkuat jejaring layanan stroke nasional. Program ini menegaskan komitmen RSPON sebagai pusat rujukan nasional untuk terus berkontribusi dalam peningkatan kapasitas SDM kesehatan dan mendorong kualitas layanan pasien stroke di Indonesia secara berkelanjutan. (a.n-Humas)

Share:

Tags: RSPON, Berita

admin.rspon.go.id
Tim Humas RSPON