RSPON — Sebagai salah satu langkah strategis Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta (RSPON Mahar Mardjono Jakarta) dalam menangani gangguan kognitif paska stroke, RSPON memperkuat kompetensi tenaga medis di Indonesia dengan menyelenggarakan Program Peningkatan Kapasitas Diagnosis Post-Stroke Cognitive Impairment (PSCI) bagi residen neurologi di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh. Program ini merupakan program lanjutan dari program yang sebelumnya diadakan di Surabaya, Makassar, dan Medan.
Pada tanggal 25 May 2026, program gagasan Prof. Dr. dr. Syahrul, Sp.S(K) beserta research fellow Clinical Research Unit (CRU) RSPON Mahar Mardjono Jakarta, dr. Galih Ricci Muchamad, MSc. ini dihadiri oleh 57 peserta yang terdiri dari dokter residen neurologi dan dokter muda Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, didanai oleh Lundbeck Foundation melalui grant Neurotorium. 
Setelah menghadiri tiga kota besar di Indonesia, program ini dibuka secara resmi oleh Wakil Direktur Pelayanan RSUDZA, dr. Novita, Sp.JP(K), dan dimoderatori oleh dr. Nona Suci Rahayu, Sp.N. Program ini menyajikan materi yang komprehensif mengenai PSCI. Dr. Deidre Anne de Silva, yang merupakan Vice President dari World Stroke Organization, mengawali acara dengan materi situasi PSCI saat ini dan juga tantangan dalam deteksinya. Materi dilanjutkan oleh Prof. Dr. dr. Syahrul, Sp.S(K) terkait alur dan algoritma deteksi PSCI di Indonesia, yang kemudian dilengkapi oleh Dr. dr. Silvia F. Lumempouw, Sp.S(K) mengenai kuesioner deteksi PSCI yang dapat digunakan pada populasi pasien paska stroke. Selain itu, materi terkait perkembangan riset khususnya di bidang genomik, juga disampaikan oleh Dr. dr. Anwar Santoso, Sp.JP(K). 
Program ini merupakan program penting dalam penanganan PSCI, yang merupakan sebuah komplikasi yang sering terlambat terdeteksi namun berdampak signifikan terhadap kualitas hidup pasien dan keluarga. Secara global, diperkirakan 45% penyintas stroke mengalami gangguan kognitif dalam berbagai derajat satu tahun setelah stroke. Di Indonesia, tingginya beban stroke menjadikan PSCI sebagai tantangan kesehatan yang mendesak dan perlu ditangani secara sistematis. 
Sebagai rumah sakit pusat otak nasional, RSPON Mahar Mardjono Jakarta menegaskan komitmennya untuk tidak hanya merawat, tetapi juga mendidik. Program ini menjadi bukti nyata komitmennya dalam menjadi tulang punggung neurologi Indonesia–tempat ilmu bertemu praktif, dan praktik membentuk masa depan layanan otak bangsa. (an-humas)

Share:

Tags: RSPON, Berita

admin.rspon.go.id
Tim Humas RSPON