RSPON - Dalam upaya meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan di bidang kegawatdaruratan neurologi, Rumah Sakit Pusat Otak Nasional (RSPON) Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta (RSPON Mahar Mardjono Jakarta) menggelar Pelatihan Basic Neuro Life Support (BNLS) AK.V yang dimulai pada tanggal 18 Mei 2026 di Ruang Nakes Lantai 13 Gedung B, RSPON Mahar Mardjono Jakarta. Kegiatan ini menjadi bagian dari pengembangan kompetensi berkelanjutan bagi tenaga kesehatan dalam menghadapi kondisi neurologi kritis secara cepat, tepat, dan terintegrasi.
Pelatihan BNLS AK.V menghadirkan narasumber dan instruktur berpengalaman di bidang neurologi, neuroemergensi, serta critical care yang memberikan materi berbasis evidence-based medicine dan praktik klinis di lapangan. Kegiatan pelatihan dirancang untuk memperkuat kemampuan tenaga kesehatan dalam menghadapi berbagai kondisi neurologi kritis yang membutuhkan respons cepat dan penanganan komprehensif.
Selama pelaksanaan pelatihan, peserta mendapatkan berbagai materi penting terkait penanganan kegawatdaruratan neurologi, mulai dari pengenalan dan penilaian awal pasien dengan gangguan neurologis akut, stabilisasi airway, breathing, circulation (ABC), hingga tata laksana pasien dengan penurunan kesadaran. Selain itu, peserta juga memperoleh pembahasan mengenai penanganan stroke akut, status epileptikus, cedera kepala traumatik, peningkatan tekanan intrakranial, serta berbagai kondisi kegawatdaruratan neurologi lainnya yang memerlukan tindakan segera.
Materi pelatihan turut membahas sistem penanganan neurocritical care, interpretasi pemeriksaan neurologis dasar, monitoring kondisi pasien kritis, hingga koordinasi penanganan multidisiplin pada pasien dengan gangguan saraf akut. Peserta juga dibekali pemahaman terkait komunikasi efektif antar tenaga kesehatan dalam situasi emergensi guna mendukung keselamatan pasien dan meningkatkan kualitas pelayanan rumah sakit.
Tidak hanya berfokus pada teori, pelatihan BNLS AK.V juga menghadirkan sesi praktik keterampilan klinis dan simulasi kasus kegawatdaruratan neurologi. Dalam sesi tersebut, peserta melakukan praktik langsung terkait penanganan airway pada pasien neurologi, bantuan hidup dasar dan lanjutan, penanganan kejang, evaluasi neurologis cepat, serta simulasi penanganan pasien stroke dan trauma kepala. Kegiatan simulasi dilakukan secara interaktif untuk meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan, kerja sama tim, serta kesiapsiagaan tenaga kesehatan dalam menghadapi kondisi kritis di lapangan.
Kegiatan pelatihan ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan tenaga kesehatan dalam mengenali dan menangani kasus kegawatdaruratan neurologi sejak fase awal sehingga dapat meminimalkan risiko komplikasi serta meningkatkan keselamatan dan kualitas hidup pasien. Selain itu, pelatihan ini juga menjadi bagian dari komitmen rumah sakit dalam mendukung peningkatan mutu pelayanan kesehatan, khususnya dalam bidang neurologi dan neuroemergensi. (IN -Humas)


Share:

Tags: RSPON, Berita

admin.rspon.go.id
Tim Humas RSPON